sejarah perang yang konyol

saat hal sepele memicu konflik berskala nasional

sejarah perang yang konyol
I

Pernahkah kita membayangkan apa yang ada di pikiran para pemimpin dunia sebelum memutuskan untuk maju ke medan perang? Kita mungkin menduga bahwa keputusannya pasti sangat dramatis. Penuh dengan rapat di ruang rahasia, kepulan asap cerutu, dan diskusi intelektual yang panas tentang perebutan wilayah atau ideologi negara. Secara historis, memang banyak yang seperti itu.

Tapi sejarah kita sebagai ras manusia rupanya juga punya sisi yang komedi, sangat konyol, namun sekaligus menyedihkan.

Coba bayangkan ini. Puluhan nyawa melayang. Dua negara tetangga saling mengarahkan moncong meriam dengan kekuatan militer penuh. Garis depan pertahanan dibangun dalam semalam. Penyebab dari semua kekacauan epik ini? Seekor anjing yang sedang asyik berlari.

Betul, teman-teman. Kita tidak salah baca. Bukan perebutan ladang minyak atau pembunuhan putra mahkota. Pemicu perang ini adalah seekor anjing kampung yang kebetulan sedang mencari udara segar.

II

Mari kita mundur sejenak ke tahun 1925. Tempatnya ada di perbatasan antara negara Yunani dan Bulgaria. Saat itu, ketegangan di antara kedua negara memang sedang berada di titik didih. Mereka baru saja melewati neraka Perang Dunia I. Ada banyak dendam masa lalu, sengketa wilayah, dan luka batin yang belum selesai.

Dalam kacamata psikologi klinis, ada fenomena yang disebut hypervigilance. Ini adalah sebuah kondisi di mana sistem saraf dan otak kita berada dalam mode waspada tingkat tinggi secara terus-menerus karena trauma masa lalu.

Saat kita sangat membenci atau mencurigai seseorang, jangankan melihat dia memegang senjata api. Melihat dia menggaruk kepala saja rasanya seperti sebuah ancaman mematikan. Nah, persis itulah yang dirasakan para penjaga perbatasan kedua negara ini.

Mereka berdiri berhadap-hadapan setiap hari. Jari mereka selalu berkeringat dan menempel di pelatuk senapan. Mereka, secara bawah sadar, hanya menunggu satu alasan sangat kecil untuk meledak. Dan alasan itu, ironisnya, datang dalam bentuk hewan peliharaan berbulu yang menggemaskan.

III

Kisah absurd ini dimulai pada suatu sore di bulan Oktober. Seorang tentara perbatasan Yunani sedang bermain dengan anjingnya. Entah karena melihat burung atau sekadar bosan, tiba-tiba anjing itu berlari kencang. Ia melewati garis imajiner perbatasan, masuk tepat ke wilayah kedaulatan Bulgaria.

Sang tentara Yunani, secara insting layaknya seorang pemilik hewan peliharaan, langsung berlari mengejar anjingnya. Tanpa sadar, ia melewati batas negara.

Tentu saja, tentara perbatasan Bulgaria yang sedang mengalami hypervigilance tadi tidak melihat kejadian ini sebagai "seorang pria malang yang mencari anjingnya". Otak mereka yang sudah dipenuhi bias konfirmasi (confirmation bias) langsung mengartikan momen itu sebagai "invasi militer Yunani". Dor! Tembakan pun dilepaskan. Tentara Yunani itu tewas seketika.

Pertanyaannya sekarang, apakah urusannya selesai di situ?

Jika kita berpikir rasional, sebuah telepon panggilan diplomatik atau permintaan maaf resmi mungkin bisa menjinakkan kesalahpahaman ini. Tapi, mari kita bedah apa yang terjadi di dalam tengkorak para jenderal saat itu. Di sinilah sains tentang amygdala hijack mengambil peran. Amigdala adalah bagian primitif di otak kita yang mengurus emosi dan rasa takut. Ketika amigdala mengambil alih, bagian korteks prefrontal—area otak yang bertugas untuk berpikir logis dan berhitung untung-rugi—langsung mati rasa.

IV

Alih-alih mencari klarifikasi, pemerintah Yunani justru merasa harga dirinya diinjak-injak di hadapan dunia. Jenderal mereka saat itu, Theodoros Pangalos, menolak berpikir panjang. Ia mengirimkan ultimatum keras. Tidak cukup sampai di situ, ia mengirimkan pasukan militer lengkap untuk menginvasi Bulgaria.

Kota Petrich di Bulgaria dibombardir tanpa ampun. Ribuan warga sipil yang tidak tahu apa-apa harus dievakuasi di tengah suara ledakan. Pasukan Bulgaria tentu saja merespons dan membalas tembakan. Baku tembak artileri berskala nasional terjadi selama berhari-hari.

Di titik ini, kita melihat satu fenomena psikologis lain yang sangat berbahaya: escalation of commitment. Ini adalah kondisi saat kita sadar kita telah mengambil keputusan yang bodoh, tapi karena gengsi dan ego untuk mengaku salah, kita malah melanjutkannya habis-habisan. Kita terus berinvestasi pada kesalahan kita sendiri.

Hasil akhir dari arogansi ini? Sekitar 50 nyawa manusia melayang.

Semua kekacauan militer berskala nasional ini murni terjadi hanya karena seekor anjing peliharaan. Liga Bangsa-Bangsa (organisasi cikal bakal PBB) akhirnya harus turun tangan secara paksa untuk melerai mereka, layaknya guru melerai dua anak TK yang sedang berkelahi di taman bermain. Yunani akhirnya dinyatakan bersalah dan dijatuhi denda yang sangat besar karena dinilai memulai perang tanpa alasan yang rasional.

Lalu, bagaimana nasib si anjing yang berlari tadi? Lucunya, sejarah bahkan lupa mencatatnya.

V

Membaca lembaran sejarah ini, kita mungkin tertawa ironis sambil geleng-geleng kepala. Betapa konyol dan kekanak-kanakannya manusia zaman dulu. Tapi, sebelum kita merasa lebih pintar, mari kita refleksikan cerita ini ke kehidupan kita hari ini.

Bukankah kita juga sering terjebak dalam "Perang Anjing Liar" versi kita sendiri?

Pernahkah teman-teman bertengkar hebat dengan pasangan, saling mendiamkan dengan anggota keluarga, atau bersitegang dengan rekan kerja hanya karena masalah yang sangat remeh? Mungkin pemicunya sekadar cucian piring yang belum diangkat, handuk yang basah di kasur, atau sekadar balasan chat yang terasa terlalu singkat.

Jika kita mau jujur, masalah utamanya seringkali bukan pada piring, handuk, atau chat tersebut. Sama seperti masalah Yunani dan Bulgaria yang sebenarnya sama sekali bukan tentang si anjing. Masalah utamanya ada pada ego yang tidak mau mengalah. Pada kelelahan mental yang sudah menumpuk berbulan-bulan. Dan pada keengganan kita untuk duduk diam, mengambil jeda, dan mencerna fakta sebelum kita bereaksi.

Sejarah "Insiden Petrich" ini mengajarkan kita satu pelajaran penting yang berbasis sains. Ketika kita membiarkan emosi buta dan gengsi menyetir akal sehat kita, hal sekecil apa pun bisa memicu ledakan yang menghancurkan hubungan kita.

Jadi, di kemudian hari, jika kita merasa dada mulai panas dan ingin meledak marah karena hal yang sepele, mari biasakan untuk menarik napas panjang. Beri waktu bagi korteks prefrontal di otak kita untuk kembali bekerja. Lalu, tanyakan dengan lembut pada diri kita sendiri: apakah saya sedang bertarung demi mempertahankan prinsip yang penting, atau saya hanya sedang mengejar anjing yang salah?